Kamis, 23 Mei 2019

Romantika Pena & Senja

Ku ambil sebuah pena
Dan selembar kertas tanpa noda,
Amati secara seksama,
Perlahan mereka memulai kisah cinta

Pada bait pertama, mereka terlihat bahagia
memadu kasih tanpa air mata,
mengkencangkan rasa hanya ada kita
tanpa ada orang ketiga

Memulai bait kedua, Pena melukis senja di cakrawala
Merubah secarik kertas putih menjadi berwarna
mereka masih berselimut asmara dan memperkosa aksara
menelisik sentuhan hangat romantika 

1 jam setelah senja, andromeda menghiasi angkasa
melihat para bintang berdansa seperti mencabuli retina

Lantas bait ketiga,
Hujan memunguti senja dan tak ada yang tersisa
mungkin hanya sisa setetes air mata

Entah apa yang terjadi,
Pena enggan berdiri menggoreskan tinta mimpi
Meski rapalan nama dan elegi telah mengudara pada sang illahi
Tak ada satupun yang dapat menggugah sanubari
Kini yang tertinggal hanya halusinasi
dan Penggalan puisi " Kapan Senja Datang Lagi ?"


Surabaya, 9 Mei 2019



Iqbal Lazuardi

Kamis, 12 November 2015

Pesan yang tak "Tersampaikan"

Hai Rindu masihkah kau bersamaku,
Masihkah kau menjadi selimut di mimpiku,
tentang apa yang kau hempaskan 
tanpa memberi permisi kepada hati.

Hai Hati apakah kau tetap menyapaku
dalam hening ?,
Seperti halnya melihat awan yang 
berarak, bersama - sama menembus
dimensi waktu tanpa ada ruang 
dan batas.

Dan Hai kamu yang di luar batas Dimensiku,
Dengar lalu rasakan daun yang terbang
membawa pesan singkat dariku ini,
ketika semua do'a yang kita terbangkan
kepada tuhan menyatu,

disitu adalah titik bertemunya ruang rindu.
Dalam rentetan pesan yang tak tersampaikan
selipkan sebuah harapan kepada tuhan.
"Tuhan aku tidaklah mungkin
membenci cinta yang kau percayakan,
maka izinkanlah dia merasakan
apa yang aku rasakan, biarkan kita menghela
nafas sejenak"



Catatan pendek ini telah berikrar kepada kita.

Jumat, 13 Februari 2015

Sinar Peradaban



Hembusan Air Terdengar di Kejauhan Sana
Tonggak harapan menanti di sebuah persimpangan jalan,
Sisa Keringat Mengalir di sebuah sudut tubuh yang tak berdaya
Tempat dimana saya berharap,
jauh dengan simfoni kehidupan

Ku dengar bagaimana Pribumi Bernyanyi tentang kesedihan
Tentang tanahnya, Hartanya dan jati diri sebuah Bangsa
Orang Bilang kita ini “Jambrud Katulistiwa
Bak Seorang Raja yang tak Berguna

Dunia Telah membunuh anak-anak tak berdo’sa
Menginginkan sebuah kesenangan di tanahnya sendiri,
Jangan salahkan mereka jika ia berteriak,
Memang keadaan yang memaksa mereka untuk Menjerit

Dendam yang terus beranak-pinak,
Hausnya darah,
Serta hentakan kaki terjun ke medan perang
Menuntut keadilan dan hak setiap umat

Selasa, 15 Juli 2014

15.714 Terowongan

Ketika aku tenggelam 
di sebuah sudut kegelapan,
tanpa sadar aku kehilangan 
diriku sendiri..
jiwa yang suci terus mencari 
jati diri..
"Dug dug, dug dug"
terdengar irama jantung dan tertiup nafasku..
sesuatu yang membuat aku 
takut dengan arus kejahatan,
Kejih, Hina, dan Nikmat melebur dengan 
Nada yang ku idamkan..

Aku memandangi sesosok cermin
"Siapa Kau ?"
dia menjawab
"Aku"..
Cinta yang tertancap 
dalam Goa suci, terbang memudar !!
"?"
Jiwaku tergoncang seperti 
tak menerima takdir..
Sadisnya ibu pertiwi 
telah membutakan
 masa depan jiwaku

Nyanyian Waktu

Aku derita maupun penawar
Kesederhanaan maupun kemegahan.
Aku pedang yang menghancurkan
Aku mata air kekekalan
Aku api yang membinasakan
Aku taman kebaqaan
Pertentanganku nyata
"Anggaplah itu tipu-muslihat"
Berubah selalu, diam senantiasa
Tak berubah dalam dada yang berubah.
Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat
Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu
Aku adalah rahasia dari wujudmu.
Aku hidup karena kau memiliki jiwa
Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu



"Jeritan Yang Bernada"


Kudengar bagaimana seruling 
menceritakan kisahnya.
Ia meratapi pedihnya perpisahan
Semenjak dipotong 
dari rumpun bambu,
semua orang menangisi
tangisanku
Kudendangkan dada yang
sesak karena perpisahan
hingga terasakan 
pedihnya kerinduan.
Setiap yang jauh dari
asalnya senantiasa 
akan mencari saat pertemuan
Pada tiap komunitas,
aku menjadi sang peratap dan 
teman orang-orang yang menderita,
pun mereka yang bahagia
Setiap insan merasa 
telah menjadi temanku, 
namun tak seorang
pun pernah mengerti
rahasia yang tersimpan di batinku
Rahasiaku berada
tidak jauh dari diriku, 
namun apakah aku ada 
pada sinar mata atau
telinga yang dengannya 
rahasia-rahasia ditemukan?
Jasad bukanlah tabir roh dan roh 
bukanlah tabir jasad,

namun penglihatan 
mata roh tidak 
pernah diperkenankan 
untuk manusia
Suara seruling adalah api
bukan udara, maka tidak ada
orang yang hatinya 
tidak gelisah seperti api itu
Api yang menempati seruling
adalah api cinta laiknya 
anggur yang menggelegak karena
sesuatu yang ada 
di dalamnya, gelora cinta"

"11:06 PM"

Let me not to the marriage of true minds
Admit impediments. Love is not love
Which alters when it alteration finds,
Or bends with the remover to remove:
O no; it is an ever-fixed mark, 
That looks on tempests, and is never shaken;
It is the star to every wandering bark,
Whose worth's unknown, although his height be taken.
Love's not Time's fool, though rosy lips and cheeks 
Within his bending sickle's compass come; 
Love alters not with his brief hours and weeks, 
But bears it out even to the edge of doom.
   If this be error and upon me proved,
   I never writ, nor no man ever loved.